PEKANBARU – Pegawai swasta menjadi kelompok profesi terbanyak yang berinvestasi di pasar modal di Provinsi Riau. Dari total 197.107 investor berdasarkan kategori pekerjaan, sebanyak 71.287 investor atau 36,17 persen berasal dari kalangan pegawai swasta.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Riau, Emon Sulaeman, mengatakan kelompok pelajar menempati posisi kedua dengan 37.858 investor atau 19,06 persen. Selanjutnya, pengusaha tercatat sebanyak 32.545 investor atau 16,51 persen.
“Setelah pegawai swasta, kelompok pelajar menempati posisi kedua dengan 37.858 investor atau 19,06 persen, disusul pengusaha sebanyak 32.545 investor atau 16,51 persen,” kata Emon, Selasa (27/10/2026).
Sementara itu, kategori lain-lain mencatatkan 34.532 investor atau 17,52 persen. Pegawai negeri dan ibu rumah tangga masing-masing tercatat sebanyak 7.511 investor dan 7.499 investor.
Adapun guru dan dosen sebanyak 3.392 investor, TNI dan Polri 1.434 investor, serta pensiunan 1.049 investor.
Emon mengatakan, besarnya jumlah investor dari kalangan pegawai swasta dan pelajar menunjukkan pasar modal telah menjangkau masyarakat dengan latar belakang pekerjaan dan aktivitas yang beragam.
Menurutnya, pertumbuhan investor di Riau juga ditopang oleh meningkatnya akses informasi digital serta kegiatan edukasi pasar modal yang menyasar generasi muda.
Kalangan anak muda dinilai memiliki potensi besar menjadi investor karena terbiasa menggunakan teknologi dan mengakses informasi melalui perangkat digital.
Namun, kemudahan akses tersebut perlu diimbangi dengan pengetahuan yang memadai agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada tren atau rekomendasi yang beredar di media sosial.
“Harapannya, mereka menjadi investor yang berkualitas, tidak ikut-ikutan, tetapi mengambil keputusan berdasarkan informasi yang cukup,” ujarnya.
Untuk memperluas pemahaman masyarakat, BEI Riau mengembangkan edukasi melalui galeri investasi di perguruan tinggi dan galeri investasi edukasi hingga tingkat SMA.
Program tersebut diharapkan dapat memperkenalkan pasar modal sejak dini sekaligus membekali calon investor dengan pemahaman mengenai peluang dan risiko investasi.
Emon menilai edukasi menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pertumbuhan investor. Sebab, investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga sehingga setiap keputusan perlu didasarkan pada analisis dan pemahaman terhadap instrumen yang dipilih.
Selain mendorong penambahan jumlah investor, BEI juga berupaya meningkatkan keaktifan investor agar pertumbuhan pasar modal tidak hanya terlihat dari banyaknya rekening yang dibuka, tetapi juga dari partisipasi yang berkelanjutan.
Dari sisi perkembangan pasar modal di Riau, jumlah investor hingga Agustus 2026 tercatat mencapai 711.432 investor. Sementara itu, total nilai transaksi investor di Riau pada periode yang sama mencapai Rp47,8 triliun.
Emon menilai perkembangan transaksi tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan pasar modal di Riau masih terbuka. BEI terus memperkuat kegiatan literasi dan inklusi keuangan agar masyarakat tidak hanya tertarik menjadi investor, tetapi juga memiliki kemampuan mengambil keputusan investasi secara lebih terukur.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar cermat menyikapi rekomendasi investasi dari influencer. Informasi yang beredar di media sosial perlu diperiksa dan tidak langsung dijadikan dasar untuk membeli atau menjual saham.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, BEI berharap semakin banyak investor muda maupun investor dari berbagai profesi yang memahami cara kerja pasar modal, mengenali risikonya, dan berinvestasi sesuai dengan pengetahuan serta pertimbangan masing-masing.***
